Wednesday, October 17, 2012

GURUKU PAHLAWANKU



Secara sekilas profesi guru terlihat begitu rendahnya di mata umum. Pekerjaan mereka sepertinya tampak sederhana dan murahan, yaitu hanya mengajar, terlebih lagi jika dipandang di jaman modern saat ini. Tidak sedikit orang menolak untuk berprofesi menjadi seorang guru.

Namun jika kita lihat lebih terperinci, satu persatu mata kita akan dibukakan, melihat betapa beratnya profesi tersebut. Tidak sembarangan orang mampu untuk menjadi seorang guru. Mereka adalah tumpuan, mereka juga adalah teladan untuk setiap murid yang diajar olehnya. Mereka itu adalah ‘contoh’ yang kelak akan ditiru oleh para muridnya. Karena itu, dibutuhkan pribadi seorang guru yang tidak hanya pintar dalam hal ilmu pengetahuan namun juga harus memiliki hati yang rendah diri, sabar, dan juga sederhana serta pintar dalam beretika.

Pengajaran yang mereka berikan bukannya semata pengajaran tentang ilmu pengetahuan, namun bahkan seorang guru juga harus mengajarkan sebuah etika untuk menjadi seorang murid yang teladan. Teladan di mata sekolah maupun juga di lingkungan rumah ( bagi keluarga). Mereka memiliki tanggung jawab yang besar kepada orang tua murid. Tentunya sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka jika mereka dapat mendidik anak muridnya seperti yang diinginkan oleh orang tua murid tersebut.  Jika kita merenung sejenak, tentang keadaan kita  saat ini, yang sudah bekerja, yang memiliki karir bagus, bukankah ini salah satunya karena jasa seorang guru?

Jasa seorang guru memang patutlah diacungkan jempol. Tanpa jasa mereka, mungkin kita tidak akan mengerti ilmu matematika, ilmu sosial, ilmu agama, olahraga maupun seni. Banyak hal yang diajarkan oleh seorang guru. Ilmu beretika pun juga salah satunya kita dapat dari seorang guru.

Namun sayangnya, penghargaan untuk profesi guru masih dihitung lemah. Pemerintah tidak begitu terlihat berperan dalam hal ini. Kita bisa lihat masih banyak guru honorer yang mengajar di daerah – daerah terpencil. Jika kita berpikir lebih realitis, berapa rupiahkah yang mereka dapatkan dengan hanya mengajar murid yang ada di daerah terpencil tersebut?
Hati nuranilah yang berperan di dalamnya. Yang menggugah dan mengetuk pintu hati seseorang untuk rela berkorban, menghabiskan waktu mereka, mengajar anak-anak yang berada di daerah terpencil tersebut. Bukankah mereka layak dikatakan sebagai pahlawan?


Program tunjangan sertifikasi yang dibuat oleh Pemerintah mungkin cukup membantu para guru untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Hal ini dapat dikatakan sebagai bukti tanda jasa yang dapat diberikan pemerintah kepada guru-guru yang ada di Indonesia. Namun, masih saja tunjangan sertifikasi itu belum merata ke seluruh pelosok Indonesia. Bahkan tunjungan sertifikasi ini memiliki persyaratan, yaitu dituntut agar guru mengajar penuh 24 jam dalam seminggu. Jika jam kerja tersebut tidak dipenuhui maka, tunjangan tersebut  akan dicabut.

Disini akan terlihat ketimpangan dan kesenjangan antara guru swasta dengan guru negeri. Guru negeri mungkin akan mengambil jadwal mengajar di sekolah swasta, sementara guru swasta tidaklah dapat mengajar di negeri.  Dalam hal ini, jam mengajar guru swasta akan digeser oleh guru negeri.

Masih adakah solusi yang lebih baik selain tunjangan sertifikasi yang mewajibkan setiap guru untuk mengajar full 24 jam dalam seminggu, sehingga posisi guru swasta dapat lebih aman? Tanpa perlu mengkhawatirkan posisi mereka akan diambil oleh guru negeri.


Yang pasti, Guru adalah pahlawan pendidikan kita yang layak diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa .




       






 www.indonesiaberkibar.org

No comments:

Post a Comment