Secara sekilas profesi guru terlihat begitu rendahnya di mata
umum. Pekerjaan mereka sepertinya tampak sederhana dan murahan, yaitu hanya
mengajar, terlebih lagi jika dipandang di jaman modern saat ini. Tidak sedikit
orang menolak untuk berprofesi menjadi seorang guru.
Namun jika kita lihat lebih terperinci, satu persatu mata kita akan dibukakan, melihat betapa beratnya profesi tersebut. Tidak sembarangan orang mampu untuk menjadi seorang guru. Mereka adalah tumpuan, mereka juga adalah teladan untuk setiap murid yang diajar olehnya. Mereka itu adalah ‘contoh’ yang kelak akan ditiru oleh para muridnya. Karena itu, dibutuhkan pribadi seorang guru yang tidak hanya pintar dalam hal ilmu pengetahuan namun juga harus memiliki hati yang rendah diri, sabar, dan juga sederhana serta pintar dalam beretika.
Namun jika kita lihat lebih terperinci, satu persatu mata kita akan dibukakan, melihat betapa beratnya profesi tersebut. Tidak sembarangan orang mampu untuk menjadi seorang guru. Mereka adalah tumpuan, mereka juga adalah teladan untuk setiap murid yang diajar olehnya. Mereka itu adalah ‘contoh’ yang kelak akan ditiru oleh para muridnya. Karena itu, dibutuhkan pribadi seorang guru yang tidak hanya pintar dalam hal ilmu pengetahuan namun juga harus memiliki hati yang rendah diri, sabar, dan juga sederhana serta pintar dalam beretika.
Pengajaran yang mereka berikan bukannya semata pengajaran
tentang ilmu pengetahuan, namun bahkan seorang guru juga harus mengajarkan
sebuah etika untuk menjadi seorang murid yang teladan. Teladan di mata sekolah
maupun juga di lingkungan rumah ( bagi keluarga). Mereka memiliki tanggung
jawab yang besar kepada orang tua murid. Tentunya sebuah kebanggaan tersendiri bagi
mereka jika mereka dapat mendidik anak muridnya seperti yang diinginkan oleh
orang tua murid tersebut. Jika kita
merenung sejenak, tentang keadaan kita saat ini, yang sudah bekerja, yang memiliki
karir bagus, bukankah ini salah satunya karena jasa seorang guru?
Jasa
seorang guru memang patutlah diacungkan jempol. Tanpa jasa mereka, mungkin kita
tidak akan mengerti ilmu matematika, ilmu sosial, ilmu agama, olahraga maupun
seni. Banyak hal yang diajarkan oleh seorang guru. Ilmu beretika pun juga salah
satunya kita dapat dari seorang guru.
Namun
sayangnya, penghargaan untuk profesi guru masih dihitung lemah. Pemerintah tidak
begitu terlihat berperan dalam hal ini. Kita bisa lihat masih banyak guru
honorer yang mengajar di daerah – daerah terpencil. Jika kita berpikir lebih
realitis, berapa rupiahkah yang mereka dapatkan dengan hanya mengajar murid
yang ada di daerah terpencil tersebut?
Hati
nuranilah yang berperan di dalamnya. Yang menggugah dan mengetuk pintu hati seseorang
untuk rela berkorban, menghabiskan waktu mereka, mengajar anak-anak yang berada
di daerah terpencil tersebut. Bukankah mereka layak dikatakan sebagai pahlawan?
Program
tunjangan sertifikasi yang dibuat oleh Pemerintah mungkin cukup membantu para
guru untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Hal ini dapat dikatakan sebagai
bukti tanda jasa yang dapat diberikan pemerintah kepada guru-guru yang ada di Indonesia.
Namun, masih saja tunjangan sertifikasi itu belum merata ke seluruh pelosok
Indonesia. Bahkan tunjungan sertifikasi ini memiliki persyaratan, yaitu dituntut
agar guru mengajar penuh 24 jam dalam seminggu. Jika jam kerja tersebut tidak
dipenuhui maka, tunjangan tersebut akan
dicabut.
Disini
akan terlihat ketimpangan dan kesenjangan antara guru swasta dengan guru
negeri. Guru negeri mungkin akan mengambil jadwal mengajar di sekolah swasta,
sementara guru swasta tidaklah dapat mengajar di negeri. Dalam hal ini, jam mengajar guru swasta akan
digeser oleh guru negeri.
Masih
adakah solusi yang lebih baik selain tunjangan sertifikasi yang mewajibkan
setiap guru untuk mengajar full 24 jam dalam seminggu, sehingga posisi guru
swasta dapat lebih aman? Tanpa perlu mengkhawatirkan posisi mereka akan diambil
oleh guru negeri.
Yang pasti, Guru adalah pahlawan pendidikan kita yang layak diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa .
www.indonesiaberkibar.org




